Laman

Minggu, 18 Oktober 2015

Kuda Besi dan Kisahku

Hari ini, aku kembali menyaksikan seseorang terbunuh di jalan raya. motor itu terlindas truk, yang membuatku tak berdaya adalah sosok pengemudi yang tak berupa lagi. Tragedi ini, mengingatkanku tentang suatu masa, ketika sahabatku harus terbunuh oleh ganasnya kerikil aspal itu, dia adalah Donny.
Saat itu, kami berangkat sekolah seperti biasanya, mengendarai motor tanpa ugal-ugalan. Kami bukan dari kalangan siswa yang “ baik hati”, kami nakal! Tapi tidak di jalan. Semua yang menjadi peraturan di lalu lintas kami lakoni dengan baik. Tanpa terkecuali, ketika ada balapan, liar sih. Tapi ketika menang, ada tambahan uang jajan, jadi tak perlu minta jajan lagi pada orang tua.
Anak muda, waktunya mengenal cinta. Seperti halnya sahabatku Donny, yang telah mengenal cinta dari semenjak bangku SMP, hingga kini pacarnya tetap satu. langgeng. Mereka adalah pasangan yang tak lekang oleh waktu, hingga bertahan lima tahun lamanya. Sekarang kami duduk di bangku kelas tiga SMA.
Cinta itu, ternyata seperti asap. Ketika hujan ataupun angin meniupnya, cinta akan hilang dan bergeser ke wilayah lain. Donny memergoki Rianti, kekasihnya itu tengah bermesraan dengan lelaki lain, di kantin sekolah. Emosinya memuncak, dia mengacak-ngacak kantin dan berteriak, memukuli sang perebut. Donny sudah diambang batas. Dia berteriak pada Rianti “KITA PUTUS!” lalu dia pergi.
Wajahnya memerah, Donny benar-benar marah dan kecewa. Cinta yang dia pertahankan kandas hanya dalam hitungan menit. Baru pertama kali aku melihat dia semarah ini.
“Donn mau kemana loe?” tanyaku
“Gue mau pergi, panas banget gue disini!” Memakai helmnya.
“Heh tenangnin dulu lah, dinginin. Nanti loe kenapa-kenapa di jalan.”
“Gue udah gak tau mau ngapain lagi. Gue kecewa berat!”
“Gue tau apa yang loe rasain. So, dinginin dulu lah.”
“Gak bisa, gue mau pergi.” Donny mulai memacu motornya.
Aku masih tak memberinya izin untuk pergi, aku tahan dengan berbagai alasan. Kami beradu argumen di parkiran itu, membahas cinta, penghianatan dan keselamatan berkendara jika dia tetap ingin pergi dalam keadaan penuh amaraha seperti saat ini. Namun, sedikitpun dia tak mengindahkan ucapanku. Dia tetap memacu motornya dengan kecepatan di atas rata-rata dan mulai meninggalkan parkiran sekolah. Aku mengejarnya, hingga saat aku berdiri di gerbang sekolah. Bruggg... aku melihat dengan kedua mata kepalaku sendiri, truk itu menghempaskan motor Donny jauh hingga tak teraba, tapi Donny, dia terjatuh dan truk itu mulai memakannya. Aku hanya terpaku, terdiam bak patung. Tak tau harus berbuat apa. Aku melihat semuanya terjadi begitu saja. hingga akhirnya aku sadar  dan berteriak “Donny...”
Aku terjatuh, air mataku kini tak dapat ku tahan. Aku seorang lelaki, tapi situasi mengizinkan aku untuk menangis. Aku menghubungi keluarganya.
“Tante, ini Rendy.” Dengan suaraku yang parau dan terdengar isak tangisku.
Lalu dia bertanya kenapa aku penuh isak “Rendy? Kamu kenapa sayang?”
“Donny tante.” Tukasku.
“Kenapa dengan Donny?” Ibunya mulai gelisah, suaranya mulai ribut.
“Donny kecelakaan tante, sekarang Donny sedang di perjalanan ke rumah sakit.”
Tak ada lagi suara di telepon itu, ibunya begitu terpukul mendengar berita ini. Aku pun memintanya untuk cepat datang dan menemani Donny.
Ketika orang tuanya tiba, ibunya langsung memeluku dan bertanya apa yang terjadi, hingga harus berakhir seperti ini. Aku menceritakan sedetail mungkin apa yang ku lihat, ku dengar dan ku rasakan. Dia kembali menangis, isaknya memenuhi seisi rumah sakit. Aku tak tega melihatnya. Dokter yang menangani Donny akhirnya menghampiri kami.
‘Dengan keluarganya Donny Wijaya?” tukas dokter
“Ia dok, saya ibunya. Bagaimana keadaan anak saya?” jawab ibu Donny.
“Mohon maaf ibu, Donny telah meninggal semenjak dibawa ke rumah sakit, dia kehilangan begitu banyak darah dan kondisinya sudah tidak utuh lagi.” tegas dokter.
Ibunya semakin menjadi-jadi, dia histeris, berteriak penuh air mata. Anak satu-satunya, yang selalu dia banggakan, terenggut sudah ganasnya jalan beraspal itu.
Aku memberanikan diri untuk masuk,  melihat Donny yang telah terkafani. Air mataku kembali berjatuhan menggenangi pipi. Sahabatku terbunuh amarah dari cintanya di jalan beraspal.
Aku mengatarnya pulang, ke rumah abadinya. Berat sekali meninggalkan pekuburan itu. Aku benar-benar kehilangan sosoknya. Rianti, kekasih yang telah berhianat ikut mengiringnya hingga liang lahat. Tinggal kami berdua di tumpukan tanah Donny ini. Rianti menangis menciumi nisan Donny.
“Maafkan aku Donn, ini salahku! Kenapa kamu harus pergi secepat ini? Aku cinta, cinta sama kamu! Aku gak mungkin duain kamu.” gerutu Rianti di atas pekuburan Donny.
“Sudahlah, semuanya sudah terjadi, dia sudah tenang disana.” Tegasku.
“Rendy, maafkan aku, ini salahku!” celetuk Rianti.
“Ini sudah kehendak Tuhan, gak ada yang bisa mengelak. Ya jadiin pelajaran aja. Ayo kita pulang.” Ajakku.
Semenjak kejadian itu, aku mulai merasakan sesuatu yang aneh. Aku sangat takut mengendarai motor. Melihat jalan raya, kendaraan roda empat yang besar-besar, semua itu membuat ku gila. Hingga akhirnya, aku tak pernah mengendarai motor lagi.  Setiap hari, aku sekolah diantarkan supir, mengendarai mobil.
Cap anak nakal perlahan hilang dari perwakanku. Aku mulai terdiam, menyendiri. Selalu terngiang akan kisah Donny yang mati di jalan beraspal. Sepertinya aku mulai tak sadarkan diri, pikiranku mulai tak teraba, dipenuhi kabut penuh bercak hitam. Aku mulai sulit berpikir. Aku hanya menangis lalu tertawa. Ketika melihat motor aku histeris, ketakutan bagai di ujung maut.
Orang tuaku mulai gelisah, mereka membawaku untuk berobat, menemui seorang psikolog. Beliau berkata, bahwa ada trauma yang mendalam, benar-benar kehilangan, kehilangan sosok yang berarti. Jiwanya penuh ketakutan, seperti terkurung dalam kegelapan.
Psikolog itu menganjurkan untuk mengirimku ke tempat rehabilitasi kejiwaan. Karena aku sudah mulai tak terkendali. Ibuku hanya bisa menangis, melihat anakanya yang mulai tak waras. Aku pun sama, tapi aku terjebak, tak bisa berpikir layakanya aku dulu.
Aku kembali menata kejiwaanku, setiap hari aku histeris, melihat pengunjung yang datang mengendarai motor. Aku menangis lalu tertawa pada akhirnya. Itu yang aku lakukan di keseharian.
Ibuku datang setiap hari, membawa makanan kesukaanku, menyuapiku dengan kasih sayangnya. Dia berkata “Sayang, cepet sembuh, cepet pulang, mamah kangen. Donny juga, disana pasti dia sedih melihat kamu seperti ini. Sembuh ya sayang.” Aku mendengar semua kata-kata ibuku, aku tak suka melihat ibuku menangis, tapi aku seperti terjeruji besi, aku ingin berontak tapi tak bisa.
Enam tahun berlalu, kejiwaanku mulai membaik, aku kembali ke rumah, memperbaiki enam tahun yang terlewati. Motor? Aku kembali mengendarainya. Sudah tak ada lagi ketakutan, histeris telah pergi.
Kisah Donny adalah masa lalu, tak harus ku lupakan, tak harus pula ku ingat. Semuanya menjadi pelajaran berharga. Motor hanyalah kuda besi, kita yang mengedalikannya. Mengendarai penuh amarah hanya akan mendatangkan petaka. Motor, jalan raya, mereka tak tahu apa-apa. Kita yang memiliki andil besar untuk membawanya kemana, apakah kita akan selamat atau celaka.
Bijaklah mengendarainya. Waktu hanyalah waktu, jika kau telat, biarkanlah atau berangaktlah lebih pagi lagi. Jangan sampai kau menerobos palang kereta api ataupun menyiap kendaraan lain dengan penuh kecepatan. Semua itu hanya akan mendekatakmu pada kematian.
Satu hal lagi, ketika kau ugal-ugalan. Apakah kamu berpikir itu KEREN? Jika benar, kamu bodoh! Kamu telah menyiapkan kisah untuk keluargamu menangis, kamu telah merugikan keluargamu sendiri dan jika ada korban tumbang, semuanya akan terlihat semakin bodoh. Bukan keluargamu saja yang menangis tapi keluarga korban pula. Ingat! Jika mati, kamu tinggal di kubur saja, tapi jika kamu masih hidup, hukum menanti!

-TAMAT-

Minggu, 25 Januari 2015

They Are Our Future

Anak-anak? Saya sangat menyukai mereka, melihat mereka tersenyum bahagia, rasanya saya melihat sesuatu yang luar biasa indahnya! Tapi, ada beberapa anak yang membuat hati saya tertutup dan membenci mereka! Bukan berarti saya tidak peduli terhadap mereka. Melihat maraknya kekerasan terhadap anak, pembunuhan, pelecehan seksual. Semua itu memukul hati saya. Saya ingin berontak, ingin membantu mereka, ingin menjaga mereka. Tapi apadaya, saat ini saya hanya bisa mengirim doa saja.
Untuk semuanya, terutama orang tua. Jagalah mereka, beri mereka kasih sayang, pendidikan yang baik, berikan nilai-nilai kehidupan yang dapat membawa mereka kekehidupan yang lebih baik. Ingat, mereka adalah masa depan, mereka tak ternilai harganya. ga mereka. Tapi apadaya, saat ini saya hanya bisa mengirim doa saja. Berikan yang terbaik