Hari ini, aku kembali
menyaksikan seseorang terbunuh di jalan raya. motor itu terlindas truk, yang
membuatku tak berdaya adalah sosok pengemudi yang tak berupa lagi. Tragedi ini,
mengingatkanku tentang suatu masa, ketika sahabatku harus terbunuh oleh
ganasnya kerikil aspal itu, dia adalah Donny.
Saat itu, kami
berangkat sekolah seperti biasanya, mengendarai motor tanpa ugal-ugalan. Kami
bukan dari kalangan siswa yang “ baik hati”, kami nakal! Tapi tidak di jalan.
Semua yang menjadi peraturan di lalu lintas kami lakoni dengan baik. Tanpa
terkecuali, ketika ada balapan, liar sih. Tapi ketika menang, ada tambahan uang
jajan, jadi tak perlu minta jajan lagi pada orang tua.
Anak muda, waktunya
mengenal cinta. Seperti halnya sahabatku Donny, yang telah mengenal cinta dari
semenjak bangku SMP, hingga kini pacarnya tetap satu. langgeng. Mereka adalah
pasangan yang tak lekang oleh waktu, hingga bertahan lima tahun lamanya.
Sekarang kami duduk di bangku kelas tiga SMA.
Cinta itu, ternyata
seperti asap. Ketika hujan ataupun angin meniupnya, cinta akan hilang dan bergeser
ke wilayah lain. Donny memergoki Rianti, kekasihnya itu tengah bermesraan
dengan lelaki lain, di kantin sekolah. Emosinya memuncak, dia mengacak-ngacak
kantin dan berteriak, memukuli sang perebut. Donny sudah diambang batas. Dia
berteriak pada Rianti “KITA PUTUS!” lalu dia pergi.
Wajahnya memerah,
Donny benar-benar marah dan kecewa. Cinta yang dia pertahankan kandas hanya
dalam hitungan menit. Baru pertama kali aku melihat dia semarah ini.
“Donn mau kemana loe?” tanyaku
“Gue mau pergi, panas banget gue
disini!” Memakai helmnya.
“Heh tenangnin dulu lah,
dinginin. Nanti loe kenapa-kenapa di jalan.”
“Gue udah gak tau mau ngapain lagi.
Gue kecewa berat!”
“Gue tau apa yang loe rasain. So,
dinginin dulu lah.”
“Gak bisa, gue mau pergi.” Donny
mulai memacu motornya.
Aku masih tak
memberinya izin untuk pergi, aku tahan dengan berbagai alasan. Kami beradu
argumen di parkiran itu, membahas cinta, penghianatan dan keselamatan
berkendara jika dia tetap ingin pergi dalam keadaan penuh amaraha seperti saat
ini. Namun, sedikitpun dia tak mengindahkan ucapanku. Dia tetap memacu motornya
dengan kecepatan di atas rata-rata dan mulai meninggalkan parkiran sekolah. Aku
mengejarnya, hingga saat aku berdiri di gerbang sekolah. Bruggg... aku melihat
dengan kedua mata kepalaku sendiri, truk itu menghempaskan motor Donny jauh
hingga tak teraba, tapi Donny, dia terjatuh dan truk itu mulai memakannya. Aku
hanya terpaku, terdiam bak patung. Tak tau harus berbuat apa. Aku melihat
semuanya terjadi begitu saja. hingga akhirnya aku sadar dan berteriak “Donny...”
Aku terjatuh, air
mataku kini tak dapat ku tahan. Aku seorang lelaki, tapi situasi mengizinkan
aku untuk menangis. Aku menghubungi keluarganya.
“Tante, ini Rendy.” Dengan
suaraku yang parau dan terdengar isak tangisku.
Lalu dia bertanya kenapa aku
penuh isak “Rendy? Kamu kenapa sayang?”
“Donny tante.” Tukasku.
“Kenapa dengan Donny?” Ibunya
mulai gelisah, suaranya mulai ribut.
“Donny kecelakaan tante, sekarang
Donny sedang di perjalanan ke rumah sakit.”
Tak ada lagi suara di
telepon itu, ibunya begitu terpukul mendengar berita ini. Aku pun memintanya
untuk cepat datang dan menemani Donny.
Ketika orang tuanya
tiba, ibunya langsung memeluku dan bertanya apa yang terjadi, hingga harus
berakhir seperti ini. Aku menceritakan sedetail mungkin apa yang ku lihat, ku
dengar dan ku rasakan. Dia kembali menangis, isaknya memenuhi seisi rumah
sakit. Aku tak tega melihatnya. Dokter yang menangani Donny akhirnya
menghampiri kami.
‘Dengan keluarganya Donny
Wijaya?” tukas dokter
“Ia dok, saya ibunya. Bagaimana
keadaan anak saya?” jawab ibu Donny.
“Mohon maaf ibu, Donny telah
meninggal semenjak dibawa ke rumah sakit, dia kehilangan begitu banyak darah
dan kondisinya sudah tidak utuh lagi.” tegas dokter.
Ibunya semakin
menjadi-jadi, dia histeris, berteriak penuh air mata. Anak satu-satunya, yang
selalu dia banggakan, terenggut sudah ganasnya jalan beraspal itu.
Aku memberanikan diri
untuk masuk, melihat Donny yang telah
terkafani. Air mataku kembali berjatuhan menggenangi pipi. Sahabatku terbunuh
amarah dari cintanya di jalan beraspal.
Aku mengatarnya
pulang, ke rumah abadinya. Berat sekali meninggalkan pekuburan itu. Aku
benar-benar kehilangan sosoknya. Rianti, kekasih yang telah berhianat ikut mengiringnya
hingga liang lahat. Tinggal kami berdua di tumpukan tanah Donny ini. Rianti menangis
menciumi nisan Donny.
“Maafkan aku Donn,
ini salahku! Kenapa kamu harus pergi secepat ini? Aku cinta, cinta sama kamu!
Aku gak mungkin duain kamu.” gerutu Rianti di atas pekuburan Donny.
“Sudahlah, semuanya
sudah terjadi, dia sudah tenang disana.” Tegasku.
“Rendy, maafkan aku,
ini salahku!” celetuk Rianti.
“Ini sudah kehendak
Tuhan, gak ada yang bisa mengelak. Ya jadiin pelajaran aja. Ayo kita pulang.”
Ajakku.
Semenjak kejadian
itu, aku mulai merasakan sesuatu yang aneh. Aku sangat takut mengendarai motor.
Melihat jalan raya, kendaraan roda empat yang besar-besar, semua itu membuat ku
gila. Hingga akhirnya, aku tak pernah mengendarai motor lagi. Setiap hari, aku sekolah diantarkan supir,
mengendarai mobil.
Cap anak nakal
perlahan hilang dari perwakanku. Aku mulai terdiam, menyendiri. Selalu
terngiang akan kisah Donny yang mati di jalan beraspal. Sepertinya aku mulai
tak sadarkan diri, pikiranku mulai tak teraba, dipenuhi kabut penuh bercak
hitam. Aku mulai sulit berpikir. Aku hanya menangis lalu tertawa. Ketika
melihat motor aku histeris, ketakutan bagai di ujung maut.
Orang tuaku mulai
gelisah, mereka membawaku untuk berobat, menemui seorang psikolog. Beliau
berkata, bahwa ada trauma yang mendalam, benar-benar kehilangan, kehilangan
sosok yang berarti. Jiwanya penuh ketakutan, seperti terkurung dalam kegelapan.
Psikolog itu
menganjurkan untuk mengirimku ke tempat rehabilitasi kejiwaan. Karena aku sudah
mulai tak terkendali. Ibuku hanya bisa menangis, melihat anakanya yang mulai
tak waras. Aku pun sama, tapi aku terjebak, tak bisa berpikir layakanya aku
dulu.
Aku kembali menata
kejiwaanku, setiap hari aku histeris, melihat pengunjung yang datang
mengendarai motor. Aku menangis lalu tertawa pada akhirnya. Itu yang aku
lakukan di keseharian.
Ibuku datang setiap
hari, membawa makanan kesukaanku, menyuapiku dengan kasih sayangnya. Dia
berkata “Sayang, cepet sembuh, cepet pulang, mamah kangen. Donny juga, disana
pasti dia sedih melihat kamu seperti ini. Sembuh ya sayang.” Aku mendengar
semua kata-kata ibuku, aku tak suka melihat ibuku menangis, tapi aku seperti
terjeruji besi, aku ingin berontak tapi tak bisa.
Enam tahun berlalu,
kejiwaanku mulai membaik, aku kembali ke rumah, memperbaiki enam tahun yang
terlewati. Motor? Aku kembali mengendarainya. Sudah tak ada lagi ketakutan,
histeris telah pergi.
Kisah Donny adalah
masa lalu, tak harus ku lupakan, tak harus pula ku ingat. Semuanya menjadi
pelajaran berharga. Motor hanyalah kuda besi, kita yang mengedalikannya. Mengendarai
penuh amarah hanya akan mendatangkan petaka. Motor, jalan raya, mereka tak tahu
apa-apa. Kita yang memiliki andil besar untuk membawanya kemana, apakah kita
akan selamat atau celaka.
Bijaklah
mengendarainya. Waktu hanyalah waktu, jika kau telat, biarkanlah atau
berangaktlah lebih pagi lagi. Jangan sampai kau menerobos palang kereta api
ataupun menyiap kendaraan lain dengan penuh kecepatan. Semua itu hanya akan
mendekatakmu pada kematian.
Satu hal lagi, ketika
kau ugal-ugalan. Apakah kamu berpikir itu KEREN? Jika benar, kamu bodoh! Kamu
telah menyiapkan kisah untuk keluargamu menangis, kamu telah merugikan
keluargamu sendiri dan jika ada korban tumbang, semuanya akan terlihat semakin
bodoh. Bukan keluargamu saja yang menangis tapi keluarga korban pula. Ingat!
Jika mati, kamu tinggal di kubur saja, tapi jika kamu masih hidup, hukum
menanti!
-TAMAT-
