Berbicara mengenai
sebuah hubungan (pacaran), menurut kamu siapa yang paling dirugikan? Perempuan
kah? Atau laki-laki? Dalam pandangan saya, perempuanlah yang sangat dirugikan.
Tidak dapat kita pungkiri, berhubungan layaknya suami istri sudah dapat
dikatakan lumrah terjadi pada mereka yang merajut cinta, mereka ngatakan
berhubungan intim adalah bukti cinta, apakah itu benar? Untuk laki-laki, jika
memang kalian mencintai wanitamu, kalian tidak akan pernah merusaknya dengan
dalih simbol cinta, kalian akan menjaganya sampai waktu yang telah ditentukan,
nikmatnya akan berbeda.
Jika saya seorang
perempuan, daripada memberikan keperwanan saya sia-sia pada pasangan yang belum
tentu jadi suami, lebih baik saya menjualnya, sama nikmatnya, dan yang
terpenting, bonusnya dapat uang. Pilihan halu, dua opsi yang tidak baik untuk
dipilih. Menjaganya sampai menikah adalah pilihan terbaik.
Untuk perempuan, apakah
kalian dengan mudahnya memberikan keperwanan hanya dengan mendengar kata-kata
manis pasanganmu? Apakah kalian tidak memikirkan bagaimana perasaan orang
tuamu? Lalu bagaimana masa depanmu? Bagaimana jika pasangan yang menikamti
keperawananmu tidak menjadi suamimu? Bagaimana jika kamu mendapatkan suami yang
berperinsip, bercinta pada malam pertama setelah menikah, berharap mendapatkan
hadiah dari sang istri, hadiah yang hanya ia bisa mendapatkannya, lalu apa yang
terjadi ketika malam pertama, sang istri ternyata sudah “bolong”. Apakah ia
tidak kecewa? Hadiahnya ternyata sudah dibuka orang lain. Buruknya, bagaiaman jika ia ingin menceraikanmu? Bisa
saja kan! Jika dia menerima keadaan kamu sekarang, kamu beruntung. (realita kehidupan di Indonesia)
Untuk perempuan, apakah
kamu pernah berpikir bagaimana jika kamu hamil di luar nikah? Pasanganmu yang
dulu berkata akan bertanggungjawab pergi meninggalkamu. Lalu siapa yang paling
dirugikan? Anakmu! Kamu bisa saja menggurkannya, meliahatnya menangis atas
kekejaman ibu dan ayahnya. Ataupun kamu memepertahankannya, situasi sosial akan
membuatnya terlihat berbeda. Ada beberapa kasus yang memojokan mereka, yang
lahir di luar nikah, yang sering dicibir sebagai anak haram. Apakah kalian
tidak merasa bersalah? Kasihan pada anakamu yang menjadi korban atas nafsu
birahi kedua orang tuanya.
Entahlah, kenapa saya
mebela wanita, padahal saya diuntungkan sebagai laki-laki yang bisa menikmati
tubuh wanita, tidak hanya satu, tergantung berapa kali saya merajut cinta.
Apakah kalian perempuan tidak pernah berpikir? Betapa beruntungnya laki-laki
bisa menikmati banyak “lubang” dengan hanya kata-kata manis dan rayuannya yang
membuat kamu mudah membuka baju.
Untuk perempuan, ketika
kamu membeli makanan, apakah kamu selalu meminta taster untuk mengetahui rasa
dari makanan yang akan kalian beli? Nah, kalian bisa dikatakan sebagai taster,
bisa dicoba tapi belum tentu dibeli (belum tentu dijadikan istri), sorry to say that, but that what happened nowadays.
Untuk laki-laki, realitanya,
setiap laki-laki memiliki birahi yang sangat tinggi dan sewaktu-waktu bisa saja
meledak, termasuk saya. Namun, merusak wanita sama saja menyakiti ibumu sendiri,
menjaga kesucian dan kehormatan wanitamu akan membuktikan siapa kamu
sebenarnya, pria sejati ataukah pecundang.
Akhir kata, berjalanlah
dijalan yang seharusnya kamu lalui, rajutlah sebuah hubungan dengan landasan
seutuhnya cinta, bukan nafsu. Kamu akan menemukan sebuah keindahan yang tidak
pernah bisa dilihat oleh mereka yang menyalahgunakan cinta demi sebuah
kepuasan. Bangunlah pondasi cinta yang positif, cinta yang tidak akan membawa
penyesalan diakhir cerita.