Tato Ku Tak Seindah Tato Yang lain
Hari-harinya selalu tersibukan dengan rintihan luka
yang mentato tubuhnya.
Tuti (25), dia adalah korban kelalayan sang pembuat
jalan yang menyemburkan lelehan aspal pada tubuhnya. Tutu hanya tergolek lemah
diatas kasur usang dikamar sempitnya.
Saat itu, Tuti sedang berjalan menuju tempat kerjanya.
Dia selalu menyunggingkan senyuman disetiap langkahnya, tak ia duga! Lelehan
aspal menyembur dari sebuah mesin disebelah kiri tubuhnya. Sontak, ia tumbang,
mengeluh kesakitan diatas panasnya jalan yang keras. Sungguh ironi atas ironi,
tak sesosok manusia pun yang ingin menolong Tuti. Hingga satu jam penuh, baru
ada sseorang dermawan yang mampu mengetuk pintu hatinya untuk menolong Tuti.
Detik demi detik,
Roh Tuti terancam di deportasi dari jiwanya. Namun, Tuhan bercerita lain. Ia telah sadar dari tidur
sementaranya. Tapi, air mata selalu
berlinang dipipinya. Melihat tubuhnya yang tertato aspal, bukan cantik yang ia
dapatkan melainkan belenggu kesengsaraan menerap.
Tuti bisa kembali
cantik dengan operasi plastik. Namun, ia perlu pundi-pundi uang yang sangat
menggunung. Dan itu tak Tuti miliki! Alhasil Tuti hanya bisa diam meratapi semua ini.
Bukan kuasanya untuk mengeluh pada Tuhan, bertubi-tubi
cacian menghampiri Tuti, seperti cambukan yang seharusnya tak ia dapatkan.
Tapi, Tuti selalu sabar menghadapi itu. Ia selalu bersyukur dengan apa yang
telah Tuhan tuliskan, ia percaya. Tuhan
akan memberikan kehidupan yang indah kelah nanti. Dan sekarang, Tuti selalu
bahagia dengan hari-harinya bersama tato yang memperindah tubuhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar