Sebagai catatan, pameran fotografi
tersebut merupakan rangkaian dari diskusi & launching buku
‘Orangutan Rhyme & Blues’ karya mbak Rere yang diselenggarakan pada Jumat, 1 Februari 2013 dan sayangnya saya tidak bisa menghadirinya
Akhirnya saya sempatkan datang pada
Minggu (3/2/2013) siang untuk melihat rangkaian karya fotografi yang
luar biasa keren. Ada banyak angle yang diambil. Mulai dari bayi orangutan yang masih imut, bayi orangutan dan para babysitternya, orangutan menggendong anaknya, dan lainnya. mbak Rere sendiri harus melalui proses panjang untuk memperoleh hasil tulisan dan foto tentang orangutan.
Proses pemotretan orangutan tersebut dilakukan di Kalimantan sejak akhir 2011 hingga pertengahan 2012. Awalnya mbak
Rere hanya berniat untuk memotret dan meliput kondisi orangutan saja.
Jepretan pertamanya dilakukan saat mengikuti kegiatan Yayasan Konservasi
Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) di Samboja,
Kalimantan Timur. Namun ternyata hatinya tersentuh melihat kondisi
orangutan di Kalimantan. Ia tidak sanggup menutup mata, telinga dan hati
maupun berlagak cuek atas kondisi para orangutan tersebut. Ia
ikut merasakan penderitaan bayi-bayi orangutan yang kehilangan induk
mereka melalui sorot mata bayi orangutan tersebut.
“Lalu saya bertekad untuk berbuat
sesuatu, semampu saya. Dengan menguras uang tabungan yang saya punya dan
semangat yang menyala, saya rela bolak-balik Jawa-Kalimantan. Dengan
tekad mendokumentasikan kegiatan konservasi orang utan. Hal itu saya
lakukan karena saya peduli, itu saja.”paparnya melalui pengantar dalam pameran tersebut.
Sendirian perempuan yang lahir tanggal 23
September ini menyusuri jalanan rusak, berganti bus antar provinsi dan
bertemu orang-orang yang tak dikenal. Ia pun mengakui telah belajar
banyak hal baru tentang orangutan, hutan dan lainnya dalam proses
pengumpulan materi foto tersebut. “Saya semakin tahu mengapa
orangutan menjadi langka dan harus dilindungi. Karena orangutan
mempunyai peranan yang besar terhadap hutan, lingkungan, alam dan untuk
manusia. Semakin banyak orangutan tinggal di habitat aslinya maka
kehidupan manusia akan semakin baik dan berkualitas.”tambahnya.
Lebih lanjut alumni Ilmu Komunikasi UPN
Jogja ini mengungkapkan bahwa kepedulian yang dilakukannya bukan
semata-mata hanya kepada orangutan yang semakin langka. Namun juga
kepada lingkungan dan nasib generasi berikutnya. “Karena anak cucu
kita nanti yang akan merasakan efek rusaknya alam dan lingkungan apabila
habitat orangutan dan lingkungan tidak dijaga. Akan semakin sering
banjir, cuaca ekstrem yang tidak jelas waktunya, kemarau berkepanjangan,
kualitas oksigen yang buruk dan adanya ancaman berbagai macam penyakit.”urainya.
Dalam proses pengumpulan materi foto tersebut mbak Rere juga memperoleh teman, sahabat dan keluarga baru yaitu para relawan dan babysitter, ibu pengganti yang mengasuh bayi-bayi orangutan. Untuk babysitter itu sendiri mbak Rere juga secara khusus menuliskan bab tersendiri di buku tersebut. “Saya
sering merasa terharu melihat para babysitter dengan sabar merawat
orangutan yang sakit, mengajari orangutan membuat sarang, memilih makan,
bahkan menemani bermain. Itulah yang membuat saya akhirnya
menuliskannya pada bab tersendiri sebagai bentuk penghargaan saya
terhadap mereka.”jelasnya.
Selain menuliskan babysitter pada bab tersendiri, mbak
Rere juga menuliskan bab tersendiri untuk proses pelepasliaran
orangutan. Karena proses pelepasliaran yang dilakukan para teknisi
pelepasliaran tersebut sangat sulit, perlu kerja keras untuk membawa
orangutan dan melepasnya ke pelosok hutan.
Dalam pameran tersebut para pengunjung
bisa membeli buku ‘Orangutan Rhyme & Blues’ , kaos dengan gambar
orangutan, serta pin bergambar orangutan. Setiap penjualan buku, kaos
dan pin tersebut didonasikan untuk rehabilitasi satwa liar di Wildlife Rescue Centre (WRC) Yogyakarta yang terletak di Dusun Paingan, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulonprogo.
Karya luar biasa dan tidak setengah-setengah. Bahkan pada saat pameran dan launching buku pun, mbak Rere
juga mendonasikannya untuk rehabilitasi satwa liar. Dan jujur saja,
saya sendiri juga baru mengetahui tentang pentingnya orangutan dilindugi
juga dari penjelasan tersebut. Karena selama ini saya kurang paham
mengenai hal tersebut. Akhirnya saya ucapkan selamat untuk mbak Rere atas karyanya yang luar biasa. Semoga memberikan manfaat bagi lebih banyak orang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar