Negara telah memberikan otonomi khusus untuk Papua kurang lebih 12 tahun lamanya.
Tapi,
mengapa perkembangan pendidikan di wilayah pedalaman Papua kurang di perhatikan ?
Bukankah mereka orang asli Papua ?
Bukankah tujuan Pemerintah adalah untuk mencerdaskan kehidupan masyarakatnya ?
Pertanyaan-pertanyaan
ini muncul ketika melihat kurangnya perhatian pemerintah untuk
Pendidikan di pedalaman Papua. Pendidikan di pedalaman semakin hari
semakin tertinggal. Pendidikan adalah persoalan yang mempengaruhi Sumber
Daya Manusia di pedalaman, sarana pendidikannya kurang, sekolah jauh
dari rumah-rumah warga sehingga untuk mendapatkan pendidikan putera dan
puterinya harus berjalan kaki, dengan medan yang cukup jauh. Mereka
harus melewati bukit, jalan yang hanya semacam jalan tikus, dan
bebatuan, jika hujan perjalanan yang mereka tempuh lebih berat lagi.
Sampai
di sekolah mereka sudah lelah sebagian tenaga mereka telah habis dalam
menempuh perjalanan. Ini menyebabkan daya tangkap atau konsentrasi
mereka dalam belajar menjadi berkurang. Sekolah di pedalaman tidak sama
seperti di kota yang Perpustakaannya lengkap, gedungnya mencapai 2-3
tingkat,dan fasilitasnya serba lengkap.
Di pedalaman Papua mereka
belajar dan mengajar di bangunan yang tidak layak untuk di pakai,
sampai-sampai ada yang belajar tanpa meja dan kursi, mereka hanya duduk
di lantai atau memilih untuk berdiri berjam-jam hanya untuk menerima
pelajaran karena mereka ingin masa depan yang indah dan membangun
Negerinya sendiri.
Tenaga pengajar di pedalaman kurang
lebih 4-6 guru. Sedikitnya tenaga mengajar juga di karenakan kurang
pedulinya pemerintah pada nasib mereka di wilayah pedalaman. Pemerintah
sibuk membenahi Negara, sibuk ini itu, tapi tidak tahu apa yang mereka
benahi dan mereka sibukan.
Saat pemilihan-pemilihan legislatif
orang-orang (Pejabat-Pejabat ) akan berbondong-bondong ke kampung
halaman dan berjanji banyak dengan masyarakat di sana. Tetapi ketika
mereka terpilih dan duduk di kursi terhormat mereka ( pejabat-pejabat )
lupa akan segala bentuk janji-janji yang mereka sepakati dengan
masyarakat. Tapi Tak apalah karena itu akan menjadi tanggung Jawab
mereka dengan Tuhan.
Kadang ketika mereka ketemu masyarakat dari
pedalaman ada di wilayah kota mereka dengan sengaja akan menutup kaca
mobil dan pintu pagar rumah mereka.
Pemerintah hanya
sibuk dengan keadaan di perkotaan sedangkan di daerah pedalaman tidak
mereka perhatikan. Sudah 12 tahun otonomi khusus di jalankan di Papua,
namun nampaknya tidak membuahkan hasil.
Sumber TheResia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar