Laman

Senin, 09 Desember 2013

KURANGNYA PERHATIAN PEMERINTAH AKAN PENDIDIKAN DI PEDALAMAN PAPUA

Negara telah memberikan otonomi khusus untuk Papua kurang lebih 12 tahun lamanya.

Tapi,

mengapa perkembangan pendidikan di wilayah pedalaman Papua kurang di perhatikan ?
Bukankah mereka orang asli Papua ?
Bukankah tujuan Pemerintah adalah untuk mencerdaskan kehidupan masyarakatnya ?

Pertanyaan-pertanyaan ini muncul ketika melihat kurangnya perhatian pemerintah untuk Pendidikan di pedalaman Papua. Pendidikan di pedalaman semakin hari semakin tertinggal. Pendidikan adalah persoalan yang mempengaruhi Sumber Daya Manusia di pedalaman, sarana pendidikannya kurang, sekolah jauh dari rumah-rumah warga sehingga untuk mendapatkan pendidikan putera dan puterinya harus berjalan kaki, dengan medan yang cukup jauh. Mereka harus melewati bukit, jalan yang hanya semacam jalan tikus, dan bebatuan, jika hujan perjalanan yang mereka tempuh lebih berat lagi.

Sampai di sekolah mereka sudah lelah sebagian tenaga mereka telah habis dalam menempuh perjalanan. Ini menyebabkan daya tangkap atau konsentrasi mereka dalam belajar menjadi berkurang. Sekolah di pedalaman tidak sama seperti di kota yang Perpustakaannya lengkap, gedungnya mencapai 2-3 tingkat,dan fasilitasnya serba lengkap.
Di pedalaman Papua mereka belajar dan mengajar di bangunan yang tidak layak untuk di pakai, sampai-sampai ada yang belajar tanpa meja dan kursi, mereka hanya duduk di lantai atau memilih untuk berdiri berjam-jam hanya untuk menerima pelajaran karena mereka ingin masa depan yang indah dan membangun Negerinya sendiri.

Tenaga pengajar di pedalaman kurang lebih 4-6 guru. Sedikitnya tenaga mengajar juga di karenakan kurang pedulinya pemerintah pada nasib mereka di wilayah pedalaman. Pemerintah sibuk membenahi Negara, sibuk ini itu, tapi tidak tahu apa yang mereka benahi dan mereka sibukan.
Saat pemilihan-pemilihan legislatif orang-orang (Pejabat-Pejabat ) akan berbondong-bondong ke kampung halaman dan berjanji banyak dengan masyarakat di sana. Tetapi ketika mereka terpilih dan duduk di kursi terhormat mereka ( pejabat-pejabat )  lupa akan segala bentuk janji-janji yang mereka sepakati dengan masyarakat. Tapi Tak apalah karena itu akan menjadi tanggung Jawab mereka dengan Tuhan.
Kadang ketika mereka ketemu masyarakat dari pedalaman ada di wilayah kota mereka dengan sengaja akan menutup kaca mobil dan pintu pagar rumah mereka.

Pemerintah hanya sibuk dengan keadaan di perkotaan sedangkan di daerah pedalaman tidak mereka perhatikan. Sudah 12 tahun otonomi khusus di jalankan di Papua, namun nampaknya tidak membuahkan hasil.

Sumber TheResia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar